Mukaddimah
Dari Abu Najih Irbad bin Sariyah, Rasulullah saw bersabda: “Dan siapa diantara kalian yang (kelak) masih hidup, maka ia akan banyak menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bida’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Tema tentang salaf dan salafi barangkali sudah terlalu sering dibahas. Secara ringkas, Salaf adalah manhaj yang telah ditempuh oleh generasi terbaik umat ini; sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Adapun salafi adalah sosok yang senantiasa berusaha untuk meniti jejak langkah mereka baik dalam masalah akidah, ibadah maupun mu’amalah.

Imam Auza’i menyebutkan lima hal yang senantiasa melekat pada diri sahabat Nabi saw dan kalangan tab’in; senantiasa bersama dengan al jama’ah (Ahli Sunnah Wal Jama’ah), mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an dan berjihad di jalan Allah” . [ 1 ]

Apa yang disebutkan Imam Auzai’ merupakan sebagian contoh yang dilakukan kalangan salaf. Maka salafi adalah sosok yang berusaha meniti jejak langkah mereka siapa saja orangnya. Dan jika ada yang mengklaim dirinya salafi tapi jauh dari kelima hal tersebut maka label salafi tidak ada artinya sama sekali.
Salafi bukanlah sosok yang hanya mendengar perkataan dari ustadz atau kelompoknya saja dengan meremehkan kalangan yang lain. Salafi bukanlah sosok yang mengatakan Lebih baik mati dalam keadaan bodoh dari pada ngaji dengan ust. Fulan. Mereka berdalih, dalam rangka merealisaiskan pernyataan para ulama hadits terdahulu dalam memberlakukan kaidah jarh dan ta’dil.

Syaikh Bakr Abu Zaid [2] –rahimahullah- dalam bukunya Tashnif An Naas Baina ad Dzan Wal Yaqin telah mencium gelagat tersebut. Beliau menyatakan: “Terkadang dia menempuh cara yang dilakukan oleh sebagian ahli hadits terhadap para perawi yang lemah, – dan alangkah berbeda kedua jalan itu…semua itu adalah perbuatan syetan. Dan dari sinilah jiwanya merasa senang dengan pandangan para pengkritik itu. Yaitu ketika mereka berhasil memalingkan perhatian dari apa-apa yang seharusnya diperhatikan, lalu orang-orang sibuk saling mencela antar sesamanya”.

Tiga Sifat Salafi Ekstrim
Dalam diri kelompok salafi –meski tidak semuanya- terdapat tiga sifat ekstrim; sifat Khawarij, Murjiah dan Rafidhah. Khawarij dalam arti bersikap arogan, kasar, memusuhi, memblacklist, membid’ahkan setiap da’i, aktifis atau ustadz yang bukan dari kalangannya atau yang berbeda dengannya meski mengklaim sesama salafi.

Mereka Murjiah dalam arti lembut, lunak, menolong, membantu, mencintai, siap menjadi garda terdepan dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang anti dengan syariat Islam. Padahal Syaikh Bakr Abu Zaid dengan mengutip perkataan Ibn Al Qayyim berkata: “Bid’ah yang paling besar adalah menanggalkan Al Kitab dan Sunnah Rasul-Nya dan membuat hukum baru yang menyelisihi keduanya”.

Mereka juga bersikap Rafidhah dalam arti menolak semua kelompok dan mengklaim hanya kelompoknya yang benar dan selamat adapaun yang lainnya adalah kelompok yang akan binasa dan neraka tempatnya. Hal ini seperti yang terjadi di Mu’tamar Ahli Sunnah di Teksas Amerika; Salim Hilali, Ali Hasan Al Halabi dan Usamah Al Qushi dalam obrolannya menyatakan Jama’ah Tabligh dan Jam’iyyah Syar’iyyah merupakan kelompok yang akan masuk neraka. Yang kemudian mereka ditegur oleh Syaikh Muhammad Hassan dan Syaikh Shafwat Nuruddin rahimahullah.

Mereka menyatakan kelompok-kelompok yang ada adalah hizbiyah dan yang tidak hizbiyah hanyalah kelompoknya. Namun ternyata kalangan seperti ini jauh lebih berhizbiyah dari pada kalangan lainnya. Ini namanya ‘Maling Teriak Maling’.

Perpecahan Salafi
Seorang ustadz senior salafi ketika ditanya dalam salah satu siaran radio islami, kenapa kalangan salafi berbeda-beda? Ustadz tersebut hanya menjawab perbedaan yang terjadi hanyalah perbedaan dalam masalah furu’ bukan masalah prinsifil. Benarkah apa yang dikatakan sang ustadz? Atau hanya sekedar menutupi agar para muridnya tidak tahu hakikat yang sebenarnya, bahwa memang telah terjadi perpecahan yang cukup dahsyat sehingga antara yang satu dengan yang lain saling membid’ahkan? Kalau memang perbedaan itu bukan dalam masalah prinsif kenapa tabdi’, tajrih dan tahdzir harus terjadi? Bukankah dalam masalah ijtihadi tidak boleh saling menghujat dan tidak boleh menancapkan bendera al Wala dan al Baro di atasnya.

Dalam hadits tersebut –hadits Irbad bin Sariyah- Rasulullah saw telah mengabarkan kepada kita, bahwa umat ini akan mengalami perselisihan dan perpecahan. Tidak luput dari hadits tersebut adalah kelompok yang menamakan dirinya salafi yang kini sudah berkeping-keping menjadi beberapa kelompok.

Bagi penulis sulit rasanya untuk memastikan kapan awal perpecahan itu terjadi. Hanya saja Syaikh Bakr Abu Zaid paling tidak delapan belas tahun yang lalu beliau telah merasakan adanya perpecahan dalam tubuh salafi. Beliau menyatakan: “Sepanjang yang saya ketahui, perpecahan yang terjadi dalam barisan Ahli Sunnah ini merupakan musibah yang pertama kali terjadi, dimana orang menisbatkan dirinya kepada mereka (Ahli Sunnah) justru mencela Ahli Sunnah. Dan memposisikan dirinya sebagi tentara untuk menyerang dan menebar kekacauan dan memadamkan semangat mereka, menghadang di jalan dakwah mereka dan melepaskan tali kendali lisan untuk mencela kehormatan para da’i dan membuat rintangan di jalan dakwah mereka dengan fanatisme buta”.

Pernyataan Syaikh Bakr dalam bukunya tersebut sebenarnya ditujukan kepada siapa saja yang hobinya menggolong-golongkan manusia, tanpa menunjuk hidung seseorang. Sehingga dalam hal ini Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali merasa tersinggung dan membantah buku tersebut dengan judul Al Hadd Al Fashil Bainal Haqq Wal Bathil yang kemudian bukunya (Syaikh Rabi’) dibantah lagi oleh Syaikh Abu Abdillah An Najdi dengan judul ‘Nadzarat Salafiyyah Fii Aaraa As Syaikh Rabi’ Al Madkhali.

Belum lagi perseteruan antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq. Sehingga pada tahun 1997 kalangan salafiyah Kuwait meminta pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang sikap Syaikh rabi yang kasar dan arogan. Maka Syaikh menyatakan dalam fatwanya: “Adapun Syaikh Rabi’ aku akan menulis surat untuknya dan akan aku nasehati”.

Dan akhir-akhir ini perseteruan antar tokoh salafi seperti Syaikh Rabi’ dengan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi, Syaikh Usamah Al Qushi, Syaikh Falih Al Harbi [ 3 ] dan lain-lain semakin membara bagaikan api yang sulit dipadamkan. Padahal sebelumnya mereka sangat memuliakan Syaikh Rabi’ dan menganggapnya sebagai imam Ahli Sunnah dan imam Jarh Wa Ta’dil pada masa ini. Tidak bisa dipungkiri imbasnya adalah apa yang terjadi di sana terjadi juga di Indonesia.

Salafiyah Murjiah
Kalangan salafi jelas tidak menerima istilah ini dan menuduh kalangan yang melabelnya dengan sebutan khawarij, ikhwani, quthbi, sururi dan lain-lain. Di sini perlu dicatat bahwa justru yang menyebut salafi dengan label tersebut datang dari sosok yang telah lama berinteraksi dengan Syaikh Albani dan pernah terjerumus kedalam faham Murjiah, yaitu Syaikh Abu Malik Muhammad Ibrahim Syaqrah dalam bukunya Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fii Diin Al Murjiah Al Judud. Beliau menyebutnya dengan As Salafiyyah Al Murji’ah, Firqah As Salafiyah Al Murjiah, As Salafiyah Al Murji’ah Al Jadidah dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Setelah mengakui kekeliruannya dalam masalah iman yang terjerumus kepada faham Murji’ah maka beliau bertaubat dan sebagai bentuk keseriusan taubatnya beliau menulis dua buku Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fii Diin Al Murjiah Al Judud (Dimana Letak (kalimat) Laa Ilaaha Illallah Dalam Agama Murjiah Kontemporer), A Akhta’a An Nabiyyun Wa Ashaba Al Atsariyyun (Apakah Para Nabi Yang Salah dan Kalangan Atsariyun (Salafiyun) Yang Benar?), dan beliau memberi pengantar kitab Haqiqah Al Iman ‘Inda As Syaikh Al Albani (Hakikat Iman Menurut Syaikh Albani).

Syaikh Ali Hasan Al Halabi
Di Indonesia Syaikh Ali Hasan Al Halabi bagaikan qadhi, yang memegang keputusan dan kendali. Bahkan dianggap sebagai imam jarh dan ta’dil. Jika ada seorang syaikh yang datang ke Indonesia maka ia akan dimintai fatwa dan pendapatnya tentang sosok syaikh tersebut. Jika Ali Hasan mengatakan bahwa syaikh tersebut sururi atau label lainnya maka pengikutnya yang ada di Indonesia akan manut dan langsung mempending seluruh jadwal syaikh tersebut. Ali Hasan di kalangan mayoritas salafi Indonesia mempunyai kedudukan yang tinggi. Jika ada yang mengkritik atau mencelanya maka sama artinya dengan mencela Syaikh Albani. Kenapa kalangan salafi Indonesia lebih mengidolakan Ali Hasan yang tidak sedikit para ulama menyatakan dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan?

Di sini penulis perlu menjelaskan secara ringkas siapa Syaikh Ali Hasan dan tentunya hal ini pun berdasarkan fakta dan data yang dikemukakan oleh kalangan yang tahu perisis tentang Syaikh Ali Hasan sehingga kita tidak terjebak dalam dunia kultus individu dan kelompok.

1. Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dalam fatwa pengharaman dua kitab Ali Hasan Fitnah At Takfir dan Shaihah Nadzir menggambarkan sosok Ali Hasan dengan: madzhabnya dalam masalah iman adalah madzhab Murji’ah yang bid’ah dan bathil, menyeleweng dalam menukil perkataan Ibn Katsir dan Syaikh Muhammad Ibrahim, dusta atas nama Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, menafsirkan pendapat ulama tidak sebagaimana yang mereka maksudkan, meremehkan masalah tidak berhukum dengan hukum Allah, hendaknya ia mencabut pendapat-pendapat ini, hendaknya ia bertaqwa kepada Allah pada dirinya yaitu dengan kembali kepada kebenaran, hendaknya bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu syar’i kepada ulama yang keilmuannya terpercaya dan akidahnya benar.

Ali Hasan adalah sosok yang ngeyel sehingga ia pun membantah fatwa Komisi Fatwa dengan Al Ajwibah Al Mutalaimah ‘An Fatwa Lajnah Daimah. Dan bantahannya tersebut dibantah lagi oleh Syaikh Muhammad Ad Dausari yang diberi pengantar oleh beberapa ulama senior namun Ali Hasan tetap ngeyel dan membantah buku tersebut.

2. Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah. Beliau pernah menjadi penengah dalam debat Ali Hasan dan DR. Abu Ruhayyim [4] yang kemudian beliau membenarkan dan memuji apa yang disampaikan DR. Abu Ruhayyim. Yang mana dalam hal ini Ali Hasan tidak amanah dalam menukil pendapat ulama. Sampai-sampai Syaikh Syaqrah marah dan mengatakan; kalau bukan kamu maka akan saya potong tangannya.

Dalam bukunya ‘Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fi Dien Al Murjiah Al Judud, Syaikh merujuk dan memuji buku yang ditulis Syaikh Muhammad Ad Dausari hal ini sangat berbeda dengan Ali Hasan yang justru mencela dan membantahnya. Bahkan dalam bukunya, Syaikh Syaqrah menyebut Ali Hasan sebagai ‘Embrio Salafiyah Murji’ah’.

Kalangan salafi banyak yang merujuk kepada pembelaan Syaikh Husain Alu Syaikh salah seorang ulama Madinah yang menyebut Ali Hasan dengan saudara senior. Harusnya merekapun membaca apa yang ditulis putra Syaikh Muhammad Syaqrah yaitu Ashim bin Muhammad Syaqrah yang menulis bantahan ‘Ar Rudud Al Ilmiyah As Saniyyah yang ditujukan kepada Ali Hasan dan pendukungnya, termasuk Syaikh Husain. Diantara salah satu pernyataannya; Bagiamana bisa dikatakan saudara senior? Dari sisi usia jelas Ali Hasan lebih muda dari Syaikh Husain. Dan jika dilihat dari sisi keilmuan jelas orang-orang yang duduk dikomisi Fatwa jauh lebih senior dari pada Ali Hasan.

Kembalinya Syaikh Muhammad Syaqrah kepada faham Ahli Sunnah dalam masalah iman diakui juga oleh Abu Muhammad Al Maqdisi dalam Tabshir Al Uqala Bi Talbisat At Tajahhum Wal Irja dan Syaikh Abu Bashir. Bahkan Abu Bahsir menulis artikel dengan judul Li As Syaikh Muhammad Syaqrah ‘Alayya Dain (Aku Mempunyai Utang Kepada Syaikh Muhammad Syaqrah). Ketika Abu Bashir meminta maaf atas kata-katanya yang kasar –dalam buku-bukunya terdahulu- maka Syaikh Syaqrah mengatakan: “Ya Abu Bashir, anda tidak perlu meminta maaf. Kalian berada dalam jalan yang haq dan benar. Apa yang telah anda tulis, (dan yang ditulis oleh) Abu Muhammad Al Maqdisi dan Abu Qatadah adalah benar dan haq. Maka aku katakan kepada manusia: sesungguhnya anda, Abu Muhammad Al Maqdisi dan Abu Qatadah adalah haq dan benar maka tidak perlu meminta maaf. Orang yang benar tidak layak meminta maaf atas perkara yang ia berada di atasnya”.

3. Dalam buku saku Ma’a Syaikhina Nashir As Sunnah Wa Ad Dien Fi Syuhur Hayatihi Al Akhirah, Ali Hasan menyebutkan; Ketika Syaikh dikubur aku memang jauh darinya, namun aku adalah sosok yang paling akhir berbicara dengan Syaikh. Abdullatif, salah seorang putra Syaikh Albani menyatakan bahwa yang paling terakhir berbicara dengannya selain keluarga dan kerabatnya adalah salah seorang ikhwah dari Bahrain. Ini menunjukan kebohongan Ali Hasan sang qadhi dan Ahli Jarh dan Ta’dil salafi Indonesia.

4. Ali Hasan adalah sosok yang suka melakukan plagiat dan mencuri karya orang lain yang kemudian dinisbatkan kepada dirinya. Syaikh ‘Awadhallah pernah mengeluhkan permasalahan ini kepada Syaikh Bakr Abu Zaid. Bahkan Abdul Aziz bin Faishal membuat artikel dengan judul Al Farq Baina Al Muhaqqiq Wa As Sariq (Perbedaan Antara Muhaqqiq Dan Pencuri) kemudian menyebutkan beberapa bukti di antaranya Ali Hasan mencuri hasil tahqiq Al Thanahi dan Az Zawi dalam kitab An Nihayah karya Ibn Atsir dan mayoritas dari karya-karyanya banyak membela dirinya dengan berlindung dibalik nama besar Syaikh Albani. Pada hal Ali Hasan tidak pernah duduk lama-lama belajar dengan Syaikh Albani hal ini dikarenakan Syaikh juga sibuk dengan tahqiq, takhrij dan ta’liq. Dengan Syaikh Albani, Ali Hasan hanya tuntas membaca kitab kecil Nukhbah Al Fikr.

5. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam bukunya Dar’ul Fitnah ‘an Ahli Sunnah (Menepis Fitnah Yang menimpa Ahli Sunnah) secara tidak langsung menyindir Ali Hasan. Beliau menyebutkan diantara dampak negatif faham murjiah adalah meremehkan urusan shalat dan pemberlakuan syari’at Allah untuk mengadili manusia. Bahkan mereka membantu orang yang berhukum kepada thaghut padahal Allah telah memerintahkan untuk mengkufurinya. Jelas dalam dua buku Ali Hasan Fitnah At Takfir dan Shaihah Nadzir dia meremeh kedua masalah tersebut dan menyatakan bahwa orang yang sibuk dengan masalah penegakan hukum Allah adalah mirip dengan Rafidhah. Jelas ini sebuah kekeliruan dan keseatan.

6. Asy-Syaikh Rabi’ al Madkhali ditanya tentang ‘Ali Al-Halaby, maka Asy-Syaikh menjawab: “Saya akan jelaskan kepada kalian keadaan ‘Ali Al-Halaby. Selama sepuluh tahun kami bersabar atas dia dan apa yang dimunculkan dari fitnahnya, sedang dia memperkuat fitnah tersebut dan berusaha untuk memecah belah dan membuat musykilah, diantaranya: Dia memberi kata pengantar pada kitabnya Murad Syukri yang mana padanya ada aqidah murji’ah dan pendalilan dengan ucapan ahlu bid’ah.

Penutup
Syaikh Albani termasuk yang menyatakan bahwa kata As Salafi yang kemudian diikuti dengan Al Atsari adalah kalimat yang berat. Jika orang yang melabel dirinya dengan kata-kata itu mengetahui maknanya maka ia akan berlepas diri dengan menanggalkannya. Hal ini diamini oleh murid seniornya Syaikh Muhammad Syaqrah. Bahwa kata As Salafi jauh lebih berat dan fitnahnya jauh lebih dahsyat dari pada kata Al Atsari maka sebaiknya tidak menggunakan label tersebut karena akan melahirkan fanatisme, kesombongan dan meremehkan yang lainnya.

Perpecahan dalam tubuh salafi, saling membid’ahkan dan adanya klaim kebenaran rupanya telah disinggung oleh Syaikh Al Utsaimin rahimahullah. Hal ini penulis tuturkan agar kalangan salafi introspeksi dan melakukan evaluasi diri serta menyadari bahwa telah ada kekeliruan juga dalam diri mereka.

Dalam mengomentari hadits di atas yaitu hadits ke 28 dalam Syarh Al Arbain An Nawawiyah yang bersumber dari Irbad bin Sariyah beliau (Syaikh Al Utsaimin) berkata: “Dan tidak diragukan lagi bahwa madzhab Umat Islam harus bermadzhab salaf bukan beravilial kepada hizb (kelompok) tertentu yang menamakan dirinya dengan ‘SALAFIYYUN’. Yang menjadi keharusan bagi Umat Islam adalah bermadzhab dengan madzhab As Salaf As Shalih bukan berhizbiyah dengan nama ‘SALAFIYUN’. Di sana ada yang namanya Thariqah As Salaf (cara/metode salaf) dan ada juga yang namanya kelompok ‘SALAFIYUN’. Dan yang dituntut adalah mengikuti salaf (bukan beravilial kepada kelompok salafi). Meski demikian, ikhwah Salafiyun merupakan kelompok yang paling dekat dengan kebenaran. Hanya saja permasalahan mereka adalah sama dengan kelompok-kelompok yang lainya; saling menyesatkan satu sama lain, saling membid’ahkan dan saling memfasikkan”.

Wallahu A’lam bis shawab
Abu Hatim, Lc

Catatan kaki
1. Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah karya Al Lalikai. Bahkan dalam masalah jihad Rasulullah saw telah menjadikan sebagai bentuk tamasya umatnya. Seorang lelaki meminta izin kepada Rasulullah saw untuk bertamasya. Maka beliau bersabda: “Tamasya umatku adalah jihad di jalan Allah”. (HR. Abu Daud)

2. Anggota Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dan kitabnya ditulis sejak delapan belas tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1413H

3. Dosen Universitas Islam Madinah dan Direktur Ma’had Ilmi. Dulunya merupakan teman dekat Syaikh Rabi’ namun akhir-akhir ini beliau kembali kapada jalan yang benar dalam memahami masalah iman dan mengkritik tajam apa yang ditulis Ali Hasan Al Halabi dan Syaikh Rabi yang keduanya terjerumus kepada paham murji’ah. Dalam masalah ini Syaikh Falih mendapat pujian dari Prof. DR. Abdullah bin Abdurrahman Al Jarbu’ ketua Jurusan Akidah Universitas Islam Madinah

4. Isteri Syaikh Albani memilihkan calon Isteri untuknya dan Syaikh Albani yang menyampaikan nasehat dalam pernikahannya

(read more ...)





Mekah bergejolak. Dada-dada para pem-besar Quraisysesak. Betapa tidak?! Da’wahRosululloh saw sama sekali tidak bergo-yah, meski seujung kuku. Justru semakin kukuh,kokoh, mengakar dan terus tumbuh. Segala ma-cam bentuk kekerasan telah dicoba diterapkan namun hasilnya buntu. Haluan harus dirubah, perlu ada tawaran yang wah, yaitu iming-iming gemerlap dunia yang mewah. Lalu meluncurlah kalimat itu melalui lisan kafir Quraisy :

“Jika dengan da’wahmu ini semua, engkau menginginkan kekayaan, kami akan mengumpul-kan seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika dengan da’wahmu ini semua, engkau menginginkan kehormatan, maka kami akan menjadikan engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau menginginkan menjadi raja (presiden), kami mengangkatmu sebagai raja (presiden) kami. Jika apa yang engkau alami adalah karena faktor jin yang tidak mampu engkau usir, kami akan me-ngeluarkan seluruh kekayaan kami sebagai biaya untuk mencari dokter hingga engkau sembuh darinya.” (Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam).

Kalimat lugas muncul dari lisan Rosul saw:

 “Demi Alloh, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan da’wahku, seandainya matahari diletakan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku bersumpah tidak akan meninggalkan da’wahku…!” (Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam)

Jawaban yang Rosululloh saw sampaikan kepada sang paman begitu jelas terang benderang akan arti da’wah bagi kehidupan. Da’wah adalah jalan. Benar-benar tak tergantikan. Da’wah tidak bisa ditukar dengan kekayaan, kehormatan, ja-batan apalagi sekedar logika-logika politik narsistentang kemaslahatan.

Di waktu yang lain, setelah merasakan ber-bagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy, Rosululloh saw berangkat ke Thaif berharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Alloh. Tak dinyana, bangsa Arab yang terkenal memuliakan tamu, tiba-tiba beringas terhadap pelaku da’wah. Para pembesar Thaif tidak sekedar menolak, bahkan mengejek dan menghina. Rakyat jelatanya tak jauh beda, mengusir Rosululloh saw, lalu anak-anak dan para budak Thaif melempari Rosul saw dengan batu, hingga berdarah-darah.

Rosul saw kemudian meninggalkan Thaif dan mencari tempat yang aman. Di lokasi itu, Rosul saw berdoa. "Ya Alloh, Aku mengadukan kepadamu lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai yang Maha Pengasih, Engkaulah Tuhan orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhan-ku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku, kepada musuh yang akan menguasaiku atau ke-pada keluargaku yang Engkau berikan segala urusanku. Tiada suatu keberatan asal tetap dalam ridla-Mu. Afiatmu lebih berharga bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu, yang menyinari segala kegelapan, dan yang mem-perbaiki urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu atasku atau turunnya azab-Mu atasku. Kepada Engkaulah kuadukan, hingga Engkau ridho. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."

Demikian sedihnya doa Nabi saw yang dipanjatkan kepada Alloh. Kemudian Alloh mengutus Jibril untuk menyampaikan bahwa Alloh swt menerima doanya. "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Alloh telah mendengar apa yang dikatakan bani Tsaqifserta jawaban mereka atas ajakanmu. Bersamaku ini adalah malaikat pen-jaga bukit yang diutus Alloh untukmu. Maka perintahkanlah apa saja yang engkau kehendaki. Seandainya engkau ingin dia menghimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar kepada mereka, niscaya dia akan melakukannya!".

Malaikat itu pun datang dan memberi salamkepada Rosululloh saw seraya berkata, "Apapun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan, kalau engkau mau, saya akan benturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapapun yang tinggal di antara keduanya akan mati terhimpit. Jika tidak,apa pun hukuman yang engkauperintahkan, saya siap melaksanakannya segera!."

Lelah yang luar biasa dan sakit dari luka akibat lemparan batu masih beliau rasakan. NamunRosul menolak tawaran Malaikat penjaga bukit. Dengan sifat kasihnya beliau berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Alloh, mudah-mudahan ketu-runan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Alloh dan beribadah hanya kepada-Nya”. Di riwayat yang lain beliau malah mendo’akan, "Allohummahdii qaumii fainnahum laa yalamuun" (Ya Alloh berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam).

Rosululloh saw telah membuat blueprint untuk kita semua dalam menghadapi perlakuanorang-orang yang zhalim. Bukan dengan logika bom untuk meledakkan sebagian umat ini. Rosululloh saw saja yang ditawari lebih dari sekedar bom untuk membinasakan musuh da’wah yang telah menoreh luka hingga berdarah-darah. Namun beliau menolak, dan tetap berharap da’wah bisa tetap masuk meski menunggu gene-rasi berikutnya.

Pandangan beliau senantiasa tertuju pada masa depan da’wah. Yang menjadi standar beliau adalah kemanfaatan untuk dien ini. Melihat manfaatnya untuk da’wah ke depan dan didasarkan atas rasa kasih sayang yang sangat besar kepada umat, beliau berharap dari kota Thaif akan lahir suatu generasi rabbani, generasi yang akan mem-bela dien-Nya.

Tegas sekali Rosululloh saw dalam mempertahankan kaedah jalan da’wah ini. Maka apa yangdilakukan oleh Rosululloh saw ini kemudian memberikan pengaruh yang cukup lekat di hati dan sanubari para sahabat. Semangat da’wah telah merasuki relung hati terdalam para sahabat saw. Ketika baju perang disandangkan dan dua pasukan telah saling berhadapan, naluri da’wah mereka membuat mereka masih saja menawarkan tiga opsi: masuk Islam, bayar jizyah atau perang.

Hidayah ada dengan mengikuti jalan Rosululloh saw. Alloh saw telah menegaskan:

"Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya”, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu men-dapat petunjuk." (QS. Al Araf: 158)

Ayat ini berisi perintah mengikuti jejak Rosululloh dalam segala hal. Sebagai konsekuensi iman kita kepada Rosululloh, dalam menerima Islam yang diterangkan dalam al-Quran dan sunnah secara utuh. Mengikuti Rosululloh saw dalam masalah tauhid dan iman serta implemen-tasinya dalam da’wah. Ketegasan dalam kebenaran, hak dan batil, halal dan haram, tapi lembutdalam tutur kata dan sikap.

Bekal kita bukanlah tongkat Musa saw. yangmampu menyibak Laut Merah, atau kapak Ibrahim saw yang mampu melumatkan berhala membatu. Rosululloh saw membekali kita dengan Al Qur’an yang dengan itu kita berda’wah. Jangan pernah dilupa, da’wah pernah mampu membuat musuh yang menyerang, esok harinya, tiba-tiba datang menjadi pembela. Da’wah pernag mem-buat Laut Merah mengijinkan pejuang da’wah berjalan di atasnya. Da’wah pernah membuat se-ekor singa Afrika tidak jadi melumat malah tun-duk pada juru da’wah. Sungguh, da’wah adalah sebuah keajaiban tanpa batas. Da’wah membuat segalanya menjadi mungkin. Dan satu-satunya hal yang mustahil pada da’wah adalah kata “tak mungkin”. Da’wah adalah perhiasan yang men-juntai di dada kaum optimis. Tentunya mereka adalah manusia seperti yang lain dengan segala keterbatasannya, namun mereka memiliki Alloh yang mampu menerbitkan matahari dari tempat tenggelamnya.

Da’wah bukan sekedar meluangkan sedikit waktu, menyisakan sejumput kesempatan, ataupun kerja sampingan. Da’wah adalah segalanya. Segala waktu, segala kesempatan, segala kerja harus dikerahkan untuk da’wah. Apabila kita me-ngaku cinta pada Rosululloh, mengaku sebagai pengikut Rosululloh, mengaku beriman pada Rosululloh, da’wah adalah medan pembuktian.

(read more ...)



Sunnah adalah wahyu Alloh Subhanahu wa Ta`ala.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

231.  … dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. dan bertakwalah kepada Allah serta Ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

113.  … dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.

Imam Asy Syafi`i rohimahulloh mengatakan :

Alloh menyebutkan Al Kitab yang berarti Al Qur`an. Diapun menyebutkan Al Hikmah di mana aku mendengar para ahli ilmu Al Qur`an yang aku ridhoi berkata : bahwa makna hikmah adalah sunnah Rosululloh Sellewlohu `alaihi wa sallam…” (Ar Risalah : 78 – 79)

Di dalam ayat ini, Alloh Subhanahu wa Ta`ala menurunkan wahyuNya bukan hanya dalam bentuk AL Kitab, tapi juga menurunkan al hikmah yang berarti sunnah. Ini berarti bahwa sunnahpun diturunkan oleh Alloh swt sebagai wahyu.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

3.  Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

4.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Sehingga saat Abdulloh bin `Amr bin Al `Ash diejek oleh orang – orang musyrik yang berkata : “apakah engkau akan menulis segala sesuatu yang engkau dengar darinya, sedangkan Muhammad hanyalh manusia yang berbicara saat murka dan senang?”. Maka Rosululloh saw bersabda dengan tegas :

Tulislah! Demi Rob Yang jiwaku ada di tanganNya, tidak ada yang keluar dari mulutku kecuali kebenaran”. (Hr. Abu Daud : 3646, Hakim dalam Al Mustadrok 1/104 dan beliau menshohihkannya serta disepakati oleh adz Dzahabi)

Ibnu Katsir rohimahulloh berkata :

Artinya tidaklah beliau mengatakan suatu perkataan dari hawa nafsu dan keinginannya (Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) yang berarti bahwa beliau mengucapkan apa yang beliau diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia secara sempurna dan tuntas, tanpa ditambah ataupun dikurangi”. (Tafsir Al Qur`an Al `Adzim : 1307)

Rosululloh sellewlohu alaihi wa sallam bersabda :

Ketahuilah… Sesungguhnya aku diberikan Al Qur`an dan yang semisalnya bersama-sama”.  (Hr. Abu Daud : 4604, Ahmad : 4/130, Ibnu Hibban : 11, At Tirmidzi : 2666, Ibnu Majah : 12 dan Ad Darimi : 1/144 serta dishohihkan oleh syeikh Al Albani dalam kitab Misykat Al Mashobih : 1/57 dan Ahmad Syakir terhadap hadits Imam Ahmad).

Abu Sulaiman Al Khottobi rohimahulloh berkata :

Sabda beliau sellewllohu alaihi wasallam (Sesungguhnya aku diberikan Al Qur`an dan yang semisalnya bersama-sama) mengandung dua kemungkinan makna : pertama : maknanya bahwa beliau diberikan wahyu bathin yang tidak dibaca seperti beliau diberikan wahyu dzohir yang dibaca. Makna lain berarti bahwa beliau diberikan Al Kitab sebagai wahyu yang dibaca, serta diberikan al Bayan yang artinya beliau diberi idzin menjelaskan apa yang ada di dalam al Kitab, makna umum, makna khusus, menambahnya dan menentukan syari`at yang tidak disebutkan al Kitab. Semua itu mewajibkan hukum dan konsekwensi mengamalkannya, seperti lafadz dzohir yang dibaca”. (Ma`alaim As Sunan : 4/298)

Rosululloh sellewlohu alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya ruhul amin (Jibril `alaihissalam) telah menyampaikan ke dalam jiwaku bahwa tak ada satu jiwapun yang mati sampai disempurnakan rizkinya, maka perbaguslah oleh kalian dalam mencari rizki”. (Hr. Asy Syafi`i dalam Ar Risalah : 93, Al Hakim dalam Al Mustadrok : 2/4 dan Al Baihaqi dalam Al Jami Li Syu`ab Al Iman : 1141. Ahli tahkiknya mengatakan : Isnadnya memiliki rijal-rijal yang tsiqot)

Imam Asy Syafi` rohimahulloh berkata :

Di antara wahyu yang disampaikan Jibril ke dalam jiwa beliau adalah sunnahnya, itulah hikmah yang disebutkan oleh Alloh”. (Ar Risalah : 103)

Kita tidak dapat pungkiri bahwa ajaran Dienul Islam adalah kalam Alloh yang diwahyukan kepada Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam yang bukan hanya lafaz-lafaz tanpa makna dan hakekat pelaksanaannya. Semua makna dan hakekat pelaksanaan dari kalamulloh yang diwahyukan itulah yang disampaikan dan dilaksanakan oleh Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam dengan tuntas dan sempurna. Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

2.  Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Karena itu, kita melihat bahwa Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam diajarkan langsung oleh Jibril tentang berbagai makna dari lafadz-lafadz wahyu dan tata-cara pelaksanaan yang diperintahkan dan dilarang wahyu.

Jibril `alaihis salam datang kepada Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam dalam bentuk seorang laki-laki di hadapan para shohabat beliau untuk mengajarkan makna dari Al Islam, Al Iman dan Al Ihsan serta tanda-tanda kiamat. (Hr. Muslim : )

Ibnu `Abbas rodiyallohu `anhu berkata bahwa Nabi sellewlohu alaihi wa sallam bersabda :

“Jibril `alaihis salam mengimami aku dua kali di sisi Baitulloh…” (Hr. At Tirmidzi : 149, Ahmad : 1/33 dan Abu Daud : 393).

Ibnu Hazm Al Andalusi berkata ;

“Telah shohih bahwa semua kalam Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam adalah agama, tidak ada keraguan bahwa itupun wahyu dari Alloh `Azza wa jalla. Tidak ada satu ulama bahasa dan syari`ahpun yang berbeda pendapat bahwa setiap wahyu yang turun dari Alloh Subhanahu wa Ta`ala adalah dzikir yang diturunkanNya”. (Al Ihkam : 1/135)

Masih ragukah kita? Bahwa Sunnah beliau saw adalah wahyu? Masih percayakah anda dengan omongan orang-orang kotor yang sama sekali tidak kenal keimanan mereka yang mengatakan sunnah bukan wahyu? Oh… aneh… orang-orang yang sama sekali tidak menunjukkan komitmennya kepada Islam, baik secara ilmu dan amal menjadi orang-orang yang dipercayai komentarnya saat ini… Tidakkah kita berpikir? Ada Al Qur`an, Perkataan Rosululloh saw yang mulia dan perkataan para Ulama terhormat yang telah menjelaskan kepastian bahwa sunnah adalah wahyu.

(read more ...)



Kedua hal ini telah sangat dikenal oleh kaum perempuan, dimana kita biasa menjumpai keduanya, dan tidak diragukan lagi bahwa darah haidh dan nifas terhukumi sebagai najis. Cara mensucikan darah haidh dan nifas adalah dengan membasuhnya dan mengusapnya dengan air hingga bekas darah tersebut hilang.

 

Berkenaan dengan darah haidh yang terkena pakaian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tata cara menyucikannya,

تحته ثم تقر صه بالماء وتنضحه وتصلي قيه

“Menyikat, lalu menguceknya dengan air kemudian menyiramnya, dan baru setelah itu boleh mengerjakan shalat dengan mengenakan (pakaian tersebut).” (Shahih, riwayat Bukhari (no. 227) dan Muslim (no. 240 dan 291))

Adapun jika setelah dicuci dan digosok dengan air dan sabun, darahnya masih membekas maka hal ini tidak menjadi masalah, berdasarkan riwayat berikut,

عن أبي هريره رضي الله عنه, أن خولة بنت يسار قالت, يا رسول الله ليس لي إلا ثوب واحـد وأنا أحيض فيه؟ قال فإذا طهرت فاغسلى موضع الـدم ثم صلي فيه, فقالت يا رسول الله إن لم يخرج أثر؟ قال, يكفـيــك الماء ولا يضرك أثره.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Khaulah binti Yasar berkata, ‘Ya Rasulullah, aku hanya mempunyai satu potong pakaian, dan (sekarang) saya haidh mengenakan pakaian tersebut.’

Maka Rasulullah menjawab, ‘Apabila kamu telah suci, maka cucilah yang terkena haidhmu, kemudian shalatlah kamu dengannya.’

Ia bertanya, ‘Ya Rasulullah, (bagaimana) kalau bekasnya tidak bisa hilang?’

Rasulullah menjawab, ‘Cukuplah air bagimu (dengan mencucinya) dan bekasnya tidak membahayakan (shalat)mu.’” (Shahih, riwayat Abu Dawud dalam Shahih-nya (no. 351) dan ‘Aunul Ma’bud (II/26 no. 361), al-Baihaqi (II/408))

*Catatan:

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum darah manusia selain darah haidh dan darah nifas, serta hukum darah binatang yang dagingnya halal untuk dimakan. Sebagian ulama berpendapat bahwa darah secara umum yang keluar dari tubuh manusia dan hewan yang halal dagingnya untuk dimakan, adalah termasuk dalam kategori najis. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa darah hukum asalnya adalah suci, dia menjadi haram apabila dimakan, dan tidak dihukumi sebagai najis.

Salah satu ulama yang berpendapat darah termasuk najis adalah Sayyid Sabiq, sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Fiqhus Sunnah (I/45-46), yakni darah yang mengalir dari tubuh manusia dan hewan yang halal dagingnya terhukumi sebagai najis, kecuali darah yang sedikit.

Namun, Syaikh Albani telah memberi komentar dan penjelasan dalam kitabnya Tamaamul Minnah (hal. 49-52) berkaitan dengan masalah ini. Syaikh Albani mengatakan bahwa tidak bisa menyamakan hukum darah haidh dengan darah manusia yang lain (selain darah haidh dan nifas) dan darah binatang yang halal dimakan, karena tidak ada dalil dari as-sunnah ash-shahihah, terlebih dari al-Qur’an yang mendukung pernyataan ini. Karena hukum asal darah adalah suci, kecuali ada bukti tekstual yang menyatakan kenajisannya. Dan pernyataan ini juga menyelisihi ketetapan sunnah. Meskipun ada referensi dari beberapa ahli hukum terdahulu dalam membedakan antara darah yang sedikit maupun banyak, namun tidak ada dalilnya dari sunnah, bahkan disebutkan juga dalam sebuah riwayat bahwa Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu pernah dilempari panah oleh orang musyrik ketika sedang shalat di malam hari. Lalu ia mencabutnya, tetapi ia dipanah lagi hingga tiga kali. Ia melanjutkan shalatnya dalam keadaan bercucuran darah. (Hadits marfu’, sebagaimana ditakhrij dalam Shahih Abu Dawud (no.193))

Juga Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma pernah berlumuran darah dan kotoran binatang yang sedang disembelihnya, kemudian ketika shalat mulai ditegakkan, ia melaksanakan shalat tanpa berwudhu’ terlebih dahulu. (Riwayat Abdurrazaq dalam Mushannaf (I/125), Ibnu Abi Syaibah (I/392), dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (IX/284) dengan sanad yang shahih)

Syaikh Albani mengatakan, seandainya keluarnya darah yang banyak itu membatalkan shalat pasti Nabi menjelaskannya. Dan seandainya hal ini tersembunyi dari Nabi (yakni tidak diketahui Nabi), pasti Allah mengetahuinya. Maka, jika darah itu membatalkan shalat atau bersifat najis, pasti Allah mewahyukan hal tersebut kepada Nabi. [Lihat juga Fat-hul Baari (I/225)]

Namun demikian, kita harus tetap mengembalikan masalah ini kepada dalil-dalil yang shahih. Dan pendapat yang paling dekat dengan dalil yang shahih, maka itulah yang paling benar. Wallahu a’lam.

(read more ...)



Saudariku, bukalah sejenak  mushaf Al-Qur’an dan pergilah untuk menyelami  surat As-Syu’araa’ ayat 78-81 dan ayat 83-86. Didalam  surat itu terdapat do’a Nabi Ibrahim kepada sang pencipta Al-Khaliq. Betapa indahnya dan santunnya nabi kita Ibrahim ‘alaihissalam sang kekasih Allah ketika berdo’a dan meminta kepada-Nya.

 

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memulai do’anya dengan memberikan lima sanjungan kepada Sang Pengabul Permintaan.

“Allah-lah yang telah menciptaka aku, dan Dialah yang memberi hidayah kepadaku, dan Dialah zat yang memberi makanan untukku dan memberi minuman kepadaku, dan apabila aku sakit maka Dia juga yang menyembuhkan sakitku, dan  Allah-lah zat yang  mematikan aku, dan juga zat yang menghidupkan aku (kembali), dan Dia pulalah zat yang aku berharap akan mengampuni dosa-dosaku pada hari pembalasan.” (Qs. Asy-Syu’ara: 78-80)

Dalam ayat ini terdapat contoh bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa. Beliau memulai do’anya dengan memberikan lima sanjungan kepada sang Khaliq. Sanjungan pertama mengatakan bahwa Allah adalah sang pencipta sekaligus sang pemberi petunjuk (hidayah dalam masalah agama), yang kedua adalah Dia-lah yang memberikan makanan dan minuman, yang ketiga adalah yang memberi kesembuhan dari berbagai penyakit, yang keempat adalah yang menghidupkan dan mematikan dan yang kelima adalah zat yang mengampuni dosa.

Kemudian beliau mengajukan lima permohonan.

“Ya Allah berilah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku dari bagian orang-orang sholeh. Dan jadikanlah untukku menjadi manusia yang dipuji-puji banyak orang pada generasi setelahku. Ya Allah jadikan aku penghuni surga yang penuh kenikmatan. Dan ya Allah ampunilah ayahku, sesungguhnya dia orang yang tersesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari manusia dibangkitkan.” (Qs. Asy-Syu’ara 83-86)

Allah mengabulkan semua permohonan nabi Ibrahim kecuali satu saja.

Berkaitan dengan permohonan pertama yaitu meminta ilmu maka Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ ayat 54 yang artinya, “Maka sungguh telah kami berikan kepada keluarga Ibrahim kitab suci yaitu ilmu.” Demikian pula Allah telah berfirman dalam surat Yusuf ayat 101 yang artinya, “Sesungguhnya Ibrahim di akhirat termasuk orang-orang yang sholeh.” Kemudian permohonan yang kedua telah Allah jelaskan dalam surat Shaafaat ayat 108 yang artinya, “Dan kami tinggalkan Ibrahim pujian yang baik dan ucapan yang baik bagi orang-orang setelahnya.” Permohonan yang ketiga telah Allah respon positif pula yaitu dalam surat Huud ayat 73 yang artinya, “Rahmat Allah dan keberkahan Allah untuk kalian wahai keluarga Ibrahim.” Akan tetapi berkaitan dengan permohonan yang keempat,  Allah nyatakan tidak dapat dikabulkan yaitu diterangkan dalam surat At-Taubah ayat 114 yang artinya “Dan Ibrahim meminta maaf pada Allah tentang permohonan ampunan untuk ayahnya. Maka tatkala telah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri darinya.”

Kesimpulan

Maka adab do’a nabi Ibrahim ‘alaihissalam yaitu:

Menyanjung dan memuji Allah sang pencipta alam semesta sebelum memulai do’anya. An-Nawawii dalam kitabnya al-Adzkaar menyebutkan bahwasanya perjalanan Nabi dan Rasul serta orang-orang sholeh jika meminta hajat kepada Allah subhanahu wa ta’alaa, sebelum  berdoa mereka bersegera untuk berdiri di hadapan Robbnya, lalu merapatkan telapak kaki mereka kemudian menghamparkan telapak tangan mereka dan mereka meneteskan air mata di pipi mereka. Maka mereka memulai dari bertobat dari maksiat dan membebaskan dari penyimpangan dari aturan syari’at dan mereka sembunyikan kekhusyuan dari hati mereka. Dan mereka merendahkan diri di hadapan Allah subhanahu wa ta’alaa. Lalu mereka menyanjung sesembahan mereka, mensucikan-Nya, dan mengagungkan-Nya, dan menyanjung dengan sanjungan-sanjungan yang menjadi hak-Nya. Baru setelah itu mereka bersemangat untuk berdoa.

Tidak menisbatkan keburukan pada Allah subhanahu wa ta’alaa. Sebagaimana nabi Ibrahim tidak menisbatkan sakit yang merupakan ciptaan Allah kepada Allah. Hal ini karena nabi Ibrahim merupakan hamba yang sangat santun, sopan serta beradab terhadap Robb-nya, sehingga dapat dilihat pada do’a diatas bahwa nabi Ibrahim tidak menisbatkan sakit kepada-Nya. Beliau berkata “Dan jika aku sakit, maka Alallah yang menyembuhkan aku”, tidak berkata “dan Ia lah Zat yang maha memberi sakit.”  Walaupun senyatanya hal ini adalah benar, bahwasanya Allah-lah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun, hendaklah seorang hamba mengetahui dapat bersikap sopan, santun dan beradab terhadap Robb-nya.

Allah telah memuliakan umat ini dengan mengajari umat ini do’a semisal do’a nabi Ibrahim.  Allah turunkan surat al-Fatihah untuk umat Muhammad shallallaahhu ‘alaihi wa sallam yang Allah mulai surat ini dengan sanjungan dan pengagungan sampai wa’iyaaka nasta’in ,sedangkan sisanya adalah do’a. Maka surat al-Fatihah adalah dalil diantara adab berdo’a adalah  menyanjung Allah dahulu baru berdo’a dan meminta kepada Allah.

Duhai saudariku, seorang muslimah yang sholihah selalu memperhatikan amal dan perbuatan yang ia lakukan. Terlebih lagi dalam masalah berdo’a. Hendaknya kita beradab dalam melakukan do’a kepada Rabb Kita Tuhan Pencipta Alam Semesta, Penguasa Hari Pembalasan, dengan mencontoh do’a yang telah Allah ceritakan dalam Al-Qur’an. Semoga Allah beri taufik kepada kita semua agar dapat mengamalkan ilmu yang telah kita dapat ini.

(read more ...)